Oleh: Nanang Fahrudin
Jika Anda berada di Kabupaten Tuban (Jawa Timur), tidak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan diri mampir di Goa Ngerong. Goa yang terletak di Desa/ Kecamatan Rengel ini mempunyai keindahan daya tarik tersendiri, dibanding goa-goa lainnya di Tuban. Ya, goa yang menjadi rumah bagi jutaan kelelawar dan ikan berbagai jenis.
Goa Ngerong, sesuai namanya, adalah lubang menjorok ke dalam sepanjang 1,8 km. Tapi potensinya bisa mencapai 30 km. Di sepanjang dinding dan atap goa terdapat kelelawar yang bergelantungan dan memperdengarkan suara khasnya. Dari luar, ribuan kelelawar sudah terlihat -menghiasi atap goa. Pemandangan lebih bagus, biasanya saat para kelelawar itu keluar dari goa menjelang petang.
Bagaikan lidahnya, sungai kecil berasal dari mulut mengalirkan air jernih hingga ke desa-desa sekitarnya. Di sungai tersebut, berkecipak puluhan ribu ikan, mulai Bader, Lele, serta Bulus (sejenis kura-kura berwarna putih). Saat Anda menceburkan diri ke sungai, ratusan ikan pasti akan menyerbu. Demikian juga saat Anda melemparkan berbagai jenis makanan ke sungai, sekejap akan habis disantap ratusan ikan yang berebut.
Sejak dulu, Goa Ngerong tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin melihat kelelawar, atau sekedar bermain dengan ikan-ikan itu. Tak begitu sulit untuk bisa sampai ke goa yang berada di kaki bukit pegunungan kapur Rengel. Perjalanan bisa ditempuh dari beberapa arah. Paling mudah dari kota Bojonegoro yang hanya berjarak sekitar 18 km arah utara. Sedang jika dari arah Tuban Kota berjarak sekitar 30 kilometer, arah menuju Bojonegoro. Akses transportasi juga mudah dan murah. Bus mini (jurusan Bojonegoro-Tuban) tarif tak lebih dari Rp 10ribu/orang.
Anda juga tidak perlu membayar mahal untuk bisa menikmati wisata alam yang eksotis tersebut. Sesuai Peraturan Desa (Perdes) nomor 3 tahun 2008, tarif masuk Rp2.000/orang. Sangat murah. Pengelola, yakni pemerintah desa juga menyediakan jasa parkir yang diatur dalam Perdes. Untuk parkir motor dikenakan Rp1.000, mobil Rp2.000, bus atau truk Rp3.000. Tapi, (seperti tempat umum biasanya), harga biasanya lebih tinggi, dan ada selisih Rp500-1.000 dari tarif normal. Misal parkir dikenai tarif Rp2.000. Tapi itu tidak sebanding dengan keindahan alam di dalam lokasi wisata.
Masuk ke lokasi wisata Goa Ngerong, keindahan alam sudah mulai terasa. Tepat di dekat pintu masuk, sungai dengan air yang cukup jernih akan menyapa. Ratusan ikan Bader (Tawes) sebesar telapak tangan orang dewasa terlihat berlenggok-lenggok menjadi pemandangan tersendiri berwisata di sini. Sekitar 200 meter menyusuri sungai, sampailah ke mulut goa yang lebarnya hanya enam meter dan dipenuhi kelelawar.
Jika Anda ingin bermain-main dengan ikan, cukup membeli klenteng (biji kapas randu), roti dan jagung yang banyak dijual pedagang di lokasi goa. Harganya pun sangat terjangkau. Satu plastik berisi klenteng atau jagung, biasanya dijual Rp500. Makanan itu tinggal Anda lemparkan ke sungai. Dijamin ikan-ikan itu akan beratraksi memburu makanan. Sesekali muncul ikan lele sebesar kaki orang dewasa dan bulus (kura-kura) berebut makanan. Jika Anda membawa serta anak Anda, mereka bisa masuk ke sungai dan bermain dengan ikan-ikan itu.
Tidak hanya itu, jika Anda seorang petulang. Anda diperbolehkan masuk dan menyusuri lorong goa. Tapi, untuk yang ini, biasanya Anda harus dipandu. Karena, menyusuri goa memerlukan persiapan khusus. Mulai oksigen sebagai alat bantu pernafasan, lampu, sepatu air, pun juga alat keselamatan lain. Biasanya, pemandu juga menggunakan perahu kecil untuk mempercepat menyusuri sungai goa. Karena untuk petualangan ini, waktunya sudah ditentukan.
Menurut Kepala Desa Rengel, M Irham, untuk menyusuri goa, tidak dibolehkan pada siang hari. Jadi harus malam hari. Biasanya, petualangan dimulai pukul 18.00 WIB, dan keluar goa sebelum subuh, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. “Ini agar tidak mengganggu kelelawar. Karena, jika malam hari, kelelawar keluar dari goa. Mereka akan balik menjelang pagi,” katanya.
Untuk menjaga keamanan, berpetualang di dalam Goa Ngerong juga harus ditemani oleh pemandu yang berpengalaman. Biasanya, pengunjung akan dipandu mahasiswa pecinta alam dari IKIP Tuban. Beberapa perlengkapan penting lainnya yang disarankan, di antaranya masker penutup hidung.
Setidaknya bagi Anda yang tidak kuat terhadap bau kotoran kelelawar. Apalagi, keberadaan kelelawar di goa tersebut sudah beratus-ratus tahun silam.
Lebih menakjubkan lagi, ketika menyusuri sungai dalam goa, ribuan ikut terus mengikuti. Seakan ingin selalu menemani Anda saat berpetualang di dalam goa. Saat berjalan, kaki terasa menyenggol ikan-ikan tersebut. “Banyak sekali ikannya. Awalnya terasa geli,” kata Amir, warga Desa Rengel, menceritakan pengalaman masuk goa.
Kades M Irham menjelaskan, Goa Ngerong juga menyimpan ilmu pengetahuan. Buktinya, banyak mahasiswa pecinta alam, dan geolog dari sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya peneliti LIPI dari Jakarta pada tahun 2002 meneliti goa tersebut. Hasilnya, ditemukan goa dengan panjang 1.770 meter dengan debit air dari mata air di hulu Goa Ngerong sebanyak 773.6 liter/detik. Air yang keluar dari mulut goa sebanyak 523.7 liter/detik. Air tersebut mengalir ke desa-desa sekitar dan dimanfaatkan untuk areal pertanian.
Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Rengel memanfaatkan air dari sumber di goa tersebut. Luasan sawah yang diairi sekitar 5.000 hektare yang berada di Desa Rengel, Sawahan, Ngadirejo, Sambirejo, Maibit, Pekuwon dan Bulurejo. Warga pun merasakan manfaatnya, karena bisa tanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. “Sawah di sekitar sini, sawah irigasi,” kata Kades Rengel.
Kesatuan antara pengelola wisata dan warga, sebenarnya sudah mulai terlihat saat masuk ke lokasi wisata. Di sungai yang jernih ini, masyarakat sekitar banyak memanfaatkan air untuk mencuci pakaian, serta perabot rumah tangga lainnya. Tak jarang pula, masyarakat mandi di sungai tersebut. Anak-anak mereka bebas bermain di sungai yang hanya mempunyai kedalaman setengah meter. Batu di dasar sungai tampak terlihat, sehingga jika Anda mengajak putra-putri Anda, mereka akan aman kalau hendak berenang dan bermain dengan ikan.
Beberapa pengunjung juga tampak menikmati makanan sambil lesehan di aula yang disediakan pengelola untuk sekedar rehat. Aneka makanan mulai bakso, mi, camilan, hingga secangkir kopi akan menemani Anda menikmati wisata alam nan eksotis ini. Para pedagang juga menyediakan berbagai souvenir berasal dari pasir atau kayu yang dijual dengan harga beragam. Beberapa pengunjung juga mengaku senang membiarkan kakinya digigit puluhan ikan di sungai. “Ini bisa untuk terapi,” kata Ahmad, pengunjung dari Kabupaten Ngawi.
Ia menceritakan, sudah beberapa kali datang ke Goa Ngerong. Selain menikmati jutaan kelelawar, ia tak pernah melewatkan untuk merendam kakinya di sungai. Awalnya, rasanya geli saat direbut puluhan ikan. Tapi lama kelamaan akan merasakan hal yang berbeda. Ahmad percaya, gigitan itu akan menjadi semacam terapi untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti gatal, rematik, atau penyakit lain. “Saya sudah beberapa kali ke sini. Dan selalu menyempatkan merendam kaki, biar dimakan ikan,” terangnya yang berada di Ngerong bersama keluarganya.
Ada semacam mitos, dari mulut ke mulut yang berisi larangan merusak goa atau memakan ikan Bader yang ada di lokasi Goa Ngerong, di Desa/Kecamatan Rengel, Tuban. Mitos itu begitu dipercaya masyarakat sekitar, sehingga ikan-ikan itu begitu banyak dan tidak pernah hilang. Seakan tahu keberadaan mitos itu, para ikan tak pernah takut mendekati pengunjung yang berada di sungai tersebut.
Menurut Kepala Desa Rengel M Irham, mitos itu memang sudah dipercaya masyarakat sejak dulu. Sebagai pengelola, pihaknya merasa terbantu dengan adanya mitos itu. Karena, pengunjung tidak akan berani menangkap ikan dan membawanya pulang. “Mereka paling cuma main-main. Tak ada yang berani mengambil,” terangnya kepada SINDO.
Goa Ngerong, lanjut dia, menjadi andalan Pemerintah Desa. Karena, dari tarif masuknya, pendapatan desa meningkat tajam. Untuk hari libur, seperti hari raya, tahun baru atau liburan sekolah, pengunjung bisa mencapai 4.000 orang. Pendapatan pun naik karena dalam sehari tarif masuk bisa menghasilkan Rp9 juta.
Pemdes sendiri, saat ini terus mengupayakan penambahan fasilitas untuk pengunjung, agar lebih kerasan berada di lokasi Goa Ngerong, goa kelelawar. Tahun 2008 lalu, pihak desa telah membangun panggung untuk acara formal. Panggung itu untuk para siswa-siswi atau masyarakat umum yang biasanya berkunjung ke goa sambil menanamkan pendidikan lingkungan. “Di sini sering didatangi anak sekolah. Jadi mereka berwisata sambil belajar,” kata Irham.
Selama ini, wisata Goa Ngerong, mempunyai fasilitas terbatas. Mulai murni berwisata, mandi di sungai hingga acara nazar bagi yang punya acara. Nantinya, pihak desa berupaya melengkapi fasilitas areal wisata Ngerong seperti hunian, produk sovenir, hingga paket pertunjukan kesenian. Pihak desa juga sudah menawarkan program ini ke sejumlah investor. Tapi, semuanya masih dalam tahap perencanaan, dengan tujuan wisata Ngerong tambah dipadati pengunjung.
Di Goa Ngerong ini, ada beberapa jadwal khusus, dimana pengunjung akan ramai. Seperti Jumat Pahing, sedekah desa yang jatuh tiap bulan Asura (Muharam). Di goa tersebut, biasanya para sesepuh desa menggelar pertunjukan wayang kulit satu hari satu mala. Meski demikian, hari biasa, pengunjung juga tak pernah sepi. “Setiap harinya pasti tetap ada yang datang,” tutur Kades yang baru menjabat 2007 lalu.
Salah satu yang menjadi daya tarik Goa Ngerong, menurut Irham yang juga dikenal sesepuh di desa tersebut, adalah banyaknya misteri dari keberadaan goa tersebut. Mitos larangan mengambil ikan, merupakan salah satu misteri yang sampai saat ini bertuah. Kisah menyebutkan, ikan itu merupakan jelmaan seorang puteri yang dulu berada di goa tersebut. Sehingga, memakan ikan seperti memakan puteri.
Masyarakat sekitar pun begitu dekat dengan keberadaan sungai tersebut. Setiap hari mereka memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari, seperti mencuci dan mandi. Apalagi, ada ketentuan dari pemerintah desa, bagi masyarakat Rengel, tidak dikenai pungutan apapun saat masuk ke lokasi wisata. Disamping, lokasi wisata yang memang menyatu dengan pemukiman penduduk. Di kanan kiri lokasi wisata, tepatnya di atas goa sudah berjajar rumah penduduk.
Meski mitos itu membantu melestarikan alam, ternyata ada hal lain yang bisa mengancam keindahan Goa Ngerong. Ancaman itu datang dari eksploitasi batu kapur yang berada di atas goa yang dilakukan masyarakat sekitar. Penambangan dengan volume besar, akan mengancam konservasi alam sekitar, termasuk goa. “Ini harus disikapi segera oleh Pemkab Tuban. Kalau tidak, Goa Ngerong akan terkena dampaknya,” ujar Edy Thoyibi, Wakil Ketua Bidang Konservasi pada Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) pusat.
Edy menuturkan, Goa Ngerong mempunyai keindahan tersendiri dibandingkan goa lainnya di Tuban. Goa dengan panjang 1,8 km mempunyai struktur unik. Ia berbagi pengalaman, saat masuk ke goa, setelah jalan 500 meter, maka sudah tidak ada lagi cahaya karena sungai di dalam goa berbelok ke kiri. Sehingga, masuk ke dalam harus diteruskan dengan cahaya buatan. “Di goa itu, populasi kecoak juga sangat banyak,” katanya.
Di dalam goa, pengunjung yang masuk tidak hanya mendapati ikan yang selalu menyerang kaki . Melainkan, juga banyak hewan lainnya seperti jenis codova (hewan bercangkang). Tak kalah indahnya, di kedalaman sekitar 30 meter masuk goa terdapat air mancur setinggi lima meter. Air terjun itu terus mengalir dan mengeluarkan suara gemericik air tiada henti. Bagian paling ujung terdapat kolam sangat luas.
Sebenarnya, di balik kolam itu terdapat beberapa lorong lagi. Tapi, lantaran dalam dan luasnya kolam, tidak memungkinkan pengunjung melewatinya. Satu-satunya jalan adalah dengan menyelam di bawah permukaan air. Hanya saja, ini sangat beresiko, karena tidak adanya cahaya sama sekali (zona gelap). Kalau memaksa masuk, harus dengan peralatan yang lengkap.
Edy yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang konservasi alam, selalu mengingatkan akan keindahan Goa Ngerong. Selain indah, goa dengan sumber airnya itu menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar yang memanfaatkan air untuk bidang pertanian.Ekspoitasi batu kapur yang mulai banyak dilakukan pada tahun 1999 itu, mau tidak mau harus dikontrol. “Ini sangat penting,” katanya terus mengingatkan saat ngobrol dengan SINDO.
Pada tahun 1980-an, LSM Cagar yang diketuainya sering mengantar mahasiswa pecinta alam dari berbagai daerah, serta peneliti dari perguruan tinggi datang dan menyusuri goa. Karena, Goa Ngerong selain mempunyai tampilan fisik yang indah, juga menyimpan kekayaan ilmu pengetahuan yang mesti harus terus digali. Mulai dari hewan yang ada di dasar sungai dan di atap goa, sampai batu-batu sepanjang goa yang ada di dalam. “Tahun 80-an sering keluar-masuk goa. Sekarang di luar saja,” katanya.
Oleh karena itu, bagi Anda yang belum pernah ke Goa Ngerong, sempatkan berwisata ke sana. Selain menikmati alamnya, Anda bisa juga belajar tentang keramahan binatang, untuk menjaga kelestarian alam. Jutaan kelelawar yang bergelantungan di mulut goa seakan menyapa Anda yang berada di sana. Tak jarang, masyarakat mengabadikan dengan memotret dari dekat.
Selamat berwisata...!
Beberapa obyek wisata di Tuban:
Makam Wali Sunan Bonang
Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi
Goa Goa Akbar
Goa Putri Asih
Goa Ngerong
Sumber Air Panas Prataan
nanang_fahrudin@yahoo.com
Goa Ngerong, sesuai namanya, adalah lubang menjorok ke dalam sepanjang 1,8 km. Tapi potensinya bisa mencapai 30 km. Di sepanjang dinding dan atap goa terdapat kelelawar yang bergelantungan dan memperdengarkan suara khasnya. Dari luar, ribuan kelelawar sudah terlihat -menghiasi atap goa. Pemandangan lebih bagus, biasanya saat para kelelawar itu keluar dari goa menjelang petang.
Bagaikan lidahnya, sungai kecil berasal dari mulut mengalirkan air jernih hingga ke desa-desa sekitarnya. Di sungai tersebut, berkecipak puluhan ribu ikan, mulai Bader, Lele, serta Bulus (sejenis kura-kura berwarna putih). Saat Anda menceburkan diri ke sungai, ratusan ikan pasti akan menyerbu. Demikian juga saat Anda melemparkan berbagai jenis makanan ke sungai, sekejap akan habis disantap ratusan ikan yang berebut.
Sejak dulu, Goa Ngerong tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin melihat kelelawar, atau sekedar bermain dengan ikan-ikan itu. Tak begitu sulit untuk bisa sampai ke goa yang berada di kaki bukit pegunungan kapur Rengel. Perjalanan bisa ditempuh dari beberapa arah. Paling mudah dari kota Bojonegoro yang hanya berjarak sekitar 18 km arah utara. Sedang jika dari arah Tuban Kota berjarak sekitar 30 kilometer, arah menuju Bojonegoro. Akses transportasi juga mudah dan murah. Bus mini (jurusan Bojonegoro-Tuban) tarif tak lebih dari Rp 10ribu/orang.
Anda juga tidak perlu membayar mahal untuk bisa menikmati wisata alam yang eksotis tersebut. Sesuai Peraturan Desa (Perdes) nomor 3 tahun 2008, tarif masuk Rp2.000/orang. Sangat murah. Pengelola, yakni pemerintah desa juga menyediakan jasa parkir yang diatur dalam Perdes. Untuk parkir motor dikenakan Rp1.000, mobil Rp2.000, bus atau truk Rp3.000. Tapi, (seperti tempat umum biasanya), harga biasanya lebih tinggi, dan ada selisih Rp500-1.000 dari tarif normal. Misal parkir dikenai tarif Rp2.000. Tapi itu tidak sebanding dengan keindahan alam di dalam lokasi wisata.
Masuk ke lokasi wisata Goa Ngerong, keindahan alam sudah mulai terasa. Tepat di dekat pintu masuk, sungai dengan air yang cukup jernih akan menyapa. Ratusan ikan Bader (Tawes) sebesar telapak tangan orang dewasa terlihat berlenggok-lenggok menjadi pemandangan tersendiri berwisata di sini. Sekitar 200 meter menyusuri sungai, sampailah ke mulut goa yang lebarnya hanya enam meter dan dipenuhi kelelawar.
Jika Anda ingin bermain-main dengan ikan, cukup membeli klenteng (biji kapas randu), roti dan jagung yang banyak dijual pedagang di lokasi goa. Harganya pun sangat terjangkau. Satu plastik berisi klenteng atau jagung, biasanya dijual Rp500. Makanan itu tinggal Anda lemparkan ke sungai. Dijamin ikan-ikan itu akan beratraksi memburu makanan. Sesekali muncul ikan lele sebesar kaki orang dewasa dan bulus (kura-kura) berebut makanan. Jika Anda membawa serta anak Anda, mereka bisa masuk ke sungai dan bermain dengan ikan-ikan itu.
Tidak hanya itu, jika Anda seorang petulang. Anda diperbolehkan masuk dan menyusuri lorong goa. Tapi, untuk yang ini, biasanya Anda harus dipandu. Karena, menyusuri goa memerlukan persiapan khusus. Mulai oksigen sebagai alat bantu pernafasan, lampu, sepatu air, pun juga alat keselamatan lain. Biasanya, pemandu juga menggunakan perahu kecil untuk mempercepat menyusuri sungai goa. Karena untuk petualangan ini, waktunya sudah ditentukan.
Menurut Kepala Desa Rengel, M Irham, untuk menyusuri goa, tidak dibolehkan pada siang hari. Jadi harus malam hari. Biasanya, petualangan dimulai pukul 18.00 WIB, dan keluar goa sebelum subuh, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. “Ini agar tidak mengganggu kelelawar. Karena, jika malam hari, kelelawar keluar dari goa. Mereka akan balik menjelang pagi,” katanya.
Untuk menjaga keamanan, berpetualang di dalam Goa Ngerong juga harus ditemani oleh pemandu yang berpengalaman. Biasanya, pengunjung akan dipandu mahasiswa pecinta alam dari IKIP Tuban. Beberapa perlengkapan penting lainnya yang disarankan, di antaranya masker penutup hidung.
Setidaknya bagi Anda yang tidak kuat terhadap bau kotoran kelelawar. Apalagi, keberadaan kelelawar di goa tersebut sudah beratus-ratus tahun silam.
Lebih menakjubkan lagi, ketika menyusuri sungai dalam goa, ribuan ikut terus mengikuti. Seakan ingin selalu menemani Anda saat berpetualang di dalam goa. Saat berjalan, kaki terasa menyenggol ikan-ikan tersebut. “Banyak sekali ikannya. Awalnya terasa geli,” kata Amir, warga Desa Rengel, menceritakan pengalaman masuk goa.
Kades M Irham menjelaskan, Goa Ngerong juga menyimpan ilmu pengetahuan. Buktinya, banyak mahasiswa pecinta alam, dan geolog dari sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya peneliti LIPI dari Jakarta pada tahun 2002 meneliti goa tersebut. Hasilnya, ditemukan goa dengan panjang 1.770 meter dengan debit air dari mata air di hulu Goa Ngerong sebanyak 773.6 liter/detik. Air yang keluar dari mulut goa sebanyak 523.7 liter/detik. Air tersebut mengalir ke desa-desa sekitar dan dimanfaatkan untuk areal pertanian.
Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Rengel memanfaatkan air dari sumber di goa tersebut. Luasan sawah yang diairi sekitar 5.000 hektare yang berada di Desa Rengel, Sawahan, Ngadirejo, Sambirejo, Maibit, Pekuwon dan Bulurejo. Warga pun merasakan manfaatnya, karena bisa tanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. “Sawah di sekitar sini, sawah irigasi,” kata Kades Rengel.
Kesatuan antara pengelola wisata dan warga, sebenarnya sudah mulai terlihat saat masuk ke lokasi wisata. Di sungai yang jernih ini, masyarakat sekitar banyak memanfaatkan air untuk mencuci pakaian, serta perabot rumah tangga lainnya. Tak jarang pula, masyarakat mandi di sungai tersebut. Anak-anak mereka bebas bermain di sungai yang hanya mempunyai kedalaman setengah meter. Batu di dasar sungai tampak terlihat, sehingga jika Anda mengajak putra-putri Anda, mereka akan aman kalau hendak berenang dan bermain dengan ikan.
Beberapa pengunjung juga tampak menikmati makanan sambil lesehan di aula yang disediakan pengelola untuk sekedar rehat. Aneka makanan mulai bakso, mi, camilan, hingga secangkir kopi akan menemani Anda menikmati wisata alam nan eksotis ini. Para pedagang juga menyediakan berbagai souvenir berasal dari pasir atau kayu yang dijual dengan harga beragam. Beberapa pengunjung juga mengaku senang membiarkan kakinya digigit puluhan ikan di sungai. “Ini bisa untuk terapi,” kata Ahmad, pengunjung dari Kabupaten Ngawi.
Ia menceritakan, sudah beberapa kali datang ke Goa Ngerong. Selain menikmati jutaan kelelawar, ia tak pernah melewatkan untuk merendam kakinya di sungai. Awalnya, rasanya geli saat direbut puluhan ikan. Tapi lama kelamaan akan merasakan hal yang berbeda. Ahmad percaya, gigitan itu akan menjadi semacam terapi untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti gatal, rematik, atau penyakit lain. “Saya sudah beberapa kali ke sini. Dan selalu menyempatkan merendam kaki, biar dimakan ikan,” terangnya yang berada di Ngerong bersama keluarganya.
Mitos yang Membantu Melestarikan Alam
Menurut Kepala Desa Rengel M Irham, mitos itu memang sudah dipercaya masyarakat sejak dulu. Sebagai pengelola, pihaknya merasa terbantu dengan adanya mitos itu. Karena, pengunjung tidak akan berani menangkap ikan dan membawanya pulang. “Mereka paling cuma main-main. Tak ada yang berani mengambil,” terangnya kepada SINDO.
Goa Ngerong, lanjut dia, menjadi andalan Pemerintah Desa. Karena, dari tarif masuknya, pendapatan desa meningkat tajam. Untuk hari libur, seperti hari raya, tahun baru atau liburan sekolah, pengunjung bisa mencapai 4.000 orang. Pendapatan pun naik karena dalam sehari tarif masuk bisa menghasilkan Rp9 juta.
Pemdes sendiri, saat ini terus mengupayakan penambahan fasilitas untuk pengunjung, agar lebih kerasan berada di lokasi Goa Ngerong, goa kelelawar. Tahun 2008 lalu, pihak desa telah membangun panggung untuk acara formal. Panggung itu untuk para siswa-siswi atau masyarakat umum yang biasanya berkunjung ke goa sambil menanamkan pendidikan lingkungan. “Di sini sering didatangi anak sekolah. Jadi mereka berwisata sambil belajar,” kata Irham.
Selama ini, wisata Goa Ngerong, mempunyai fasilitas terbatas. Mulai murni berwisata, mandi di sungai hingga acara nazar bagi yang punya acara. Nantinya, pihak desa berupaya melengkapi fasilitas areal wisata Ngerong seperti hunian, produk sovenir, hingga paket pertunjukan kesenian. Pihak desa juga sudah menawarkan program ini ke sejumlah investor. Tapi, semuanya masih dalam tahap perencanaan, dengan tujuan wisata Ngerong tambah dipadati pengunjung.
Di Goa Ngerong ini, ada beberapa jadwal khusus, dimana pengunjung akan ramai. Seperti Jumat Pahing, sedekah desa yang jatuh tiap bulan Asura (Muharam). Di goa tersebut, biasanya para sesepuh desa menggelar pertunjukan wayang kulit satu hari satu mala. Meski demikian, hari biasa, pengunjung juga tak pernah sepi. “Setiap harinya pasti tetap ada yang datang,” tutur Kades yang baru menjabat 2007 lalu.
Salah satu yang menjadi daya tarik Goa Ngerong, menurut Irham yang juga dikenal sesepuh di desa tersebut, adalah banyaknya misteri dari keberadaan goa tersebut. Mitos larangan mengambil ikan, merupakan salah satu misteri yang sampai saat ini bertuah. Kisah menyebutkan, ikan itu merupakan jelmaan seorang puteri yang dulu berada di goa tersebut. Sehingga, memakan ikan seperti memakan puteri.
Masyarakat sekitar pun begitu dekat dengan keberadaan sungai tersebut. Setiap hari mereka memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari, seperti mencuci dan mandi. Apalagi, ada ketentuan dari pemerintah desa, bagi masyarakat Rengel, tidak dikenai pungutan apapun saat masuk ke lokasi wisata. Disamping, lokasi wisata yang memang menyatu dengan pemukiman penduduk. Di kanan kiri lokasi wisata, tepatnya di atas goa sudah berjajar rumah penduduk.
Meski mitos itu membantu melestarikan alam, ternyata ada hal lain yang bisa mengancam keindahan Goa Ngerong. Ancaman itu datang dari eksploitasi batu kapur yang berada di atas goa yang dilakukan masyarakat sekitar. Penambangan dengan volume besar, akan mengancam konservasi alam sekitar, termasuk goa. “Ini harus disikapi segera oleh Pemkab Tuban. Kalau tidak, Goa Ngerong akan terkena dampaknya,” ujar Edy Thoyibi, Wakil Ketua Bidang Konservasi pada Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) pusat.
Edy menuturkan, Goa Ngerong mempunyai keindahan tersendiri dibandingkan goa lainnya di Tuban. Goa dengan panjang 1,8 km mempunyai struktur unik. Ia berbagi pengalaman, saat masuk ke goa, setelah jalan 500 meter, maka sudah tidak ada lagi cahaya karena sungai di dalam goa berbelok ke kiri. Sehingga, masuk ke dalam harus diteruskan dengan cahaya buatan. “Di goa itu, populasi kecoak juga sangat banyak,” katanya.
Di dalam goa, pengunjung yang masuk tidak hanya mendapati ikan yang selalu menyerang kaki . Melainkan, juga banyak hewan lainnya seperti jenis codova (hewan bercangkang). Tak kalah indahnya, di kedalaman sekitar 30 meter masuk goa terdapat air mancur setinggi lima meter. Air terjun itu terus mengalir dan mengeluarkan suara gemericik air tiada henti. Bagian paling ujung terdapat kolam sangat luas.
Sebenarnya, di balik kolam itu terdapat beberapa lorong lagi. Tapi, lantaran dalam dan luasnya kolam, tidak memungkinkan pengunjung melewatinya. Satu-satunya jalan adalah dengan menyelam di bawah permukaan air. Hanya saja, ini sangat beresiko, karena tidak adanya cahaya sama sekali (zona gelap). Kalau memaksa masuk, harus dengan peralatan yang lengkap.
Edy yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang konservasi alam, selalu mengingatkan akan keindahan Goa Ngerong. Selain indah, goa dengan sumber airnya itu menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar yang memanfaatkan air untuk bidang pertanian.Ekspoitasi batu kapur yang mulai banyak dilakukan pada tahun 1999 itu, mau tidak mau harus dikontrol. “Ini sangat penting,” katanya terus mengingatkan saat ngobrol dengan SINDO.
Pada tahun 1980-an, LSM Cagar yang diketuainya sering mengantar mahasiswa pecinta alam dari berbagai daerah, serta peneliti dari perguruan tinggi datang dan menyusuri goa. Karena, Goa Ngerong selain mempunyai tampilan fisik yang indah, juga menyimpan kekayaan ilmu pengetahuan yang mesti harus terus digali. Mulai dari hewan yang ada di dasar sungai dan di atap goa, sampai batu-batu sepanjang goa yang ada di dalam. “Tahun 80-an sering keluar-masuk goa. Sekarang di luar saja,” katanya.
Oleh karena itu, bagi Anda yang belum pernah ke Goa Ngerong, sempatkan berwisata ke sana. Selain menikmati alamnya, Anda bisa juga belajar tentang keramahan binatang, untuk menjaga kelestarian alam. Jutaan kelelawar yang bergelantungan di mulut goa seakan menyapa Anda yang berada di sana. Tak jarang, masyarakat mengabadikan dengan memotret dari dekat.
Selamat berwisata...!
Beberapa obyek wisata di Tuban:
Makam Wali Sunan Bonang
Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi
Goa Goa Akbar
Goa Putri Asih
Goa Ngerong
Sumber Air Panas Prataan
nanang_fahrudin@yahoo.com
Posting Komentar 1 komentar:
Kangen mau muleh tuban,mbah ku ada di tubam
20 November, 2016 21:22