Oleh: Nanang Fahrudin
Rutinitas merayakan tahun baru telah usai. Tahun 2008 telah menjadi masa lalu. Banyak lembaran ditutup seiring pergantian tahun. Harapan, rencana, dan doa, diucapkan dengan tujuan memperoleh kehidupan yang lebih baik tahun 2009. Meski, harapan, rencana maupun doa, seringkali tergelincir pada rutinitas. Ya, hanya sekedar rutinitas.
Memang, terkadang kita selalu menginginkan kebaikan tok, tanpa disertai: keburukan. Itu berlaku bagi diri kita, keluarga, teman, dan kawan jauh. Tapi tidak untuk orang yang kita anggap “musuh”. Musuh politik, musuh sosial, musuh birokrasi, musuh budaya, dan bahkan musuh agama. Kita menjadi manusia serakah, yang hanya menginginkan kebaikan bagi diri kita dan orang-orang yang kita cintai. Tapi apa salahnya “serakah kebaikan?”
Saat menyampaikan pesan dalam perayaan Natal 25 Desember 2008 di lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan, Paus Benediktus XVI menyampaikan pesan: keserakah manusia akan menjatuhkan dunia. Headline Jawa Pos edisi 1 Januari 2009 membuat judul : Ingatkan Kita Satu Bumi. Muhammad Amin Suma, Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta memaknai tahun baru hijriyah dengan (salah satunya) melawan kezaliman dan keserakahan (Surya,11/1/2008).
Pertanyaan selanjutnya, kemana manusia melangkah dengan menggemgam erat keserakahan itu. Ibarat ingin sembuh dari sakit, kita meminum racun. Ibarat ingin kiblat ke Makkah, tapi hati kita selalu mengingat Amerika Serikat. Menginginkan perdamaian, tapi terus meletuskan peperangan. Menggembor-gemborkan penghijauan untuk atasi global warming, tapi penggundulan hutan terus terjadi.
Tahun 2008 sudah berlalu. Tapi, apa sebenarnya yang kita rayakan menyambut tahun 2009. Tak lain hanyalah menyambut keserakahan itu. Keserakahan yang telah membabi-buta. Keserakahan yang seringkali tak kita sadari menempel di setiap kemauan kita akan sebuah kebaikan. Maaf, mungkin ini agak sulit dimengerti, dan Anda boleh tidak setuju.
Cobalah Anda sebentar saja merenungkan apa sebenarnya penyebab dari semua yang dianggap masalah oleh banyak kalangan di Indonesia ini. Korupsi, perilaku hipokrit, preman, berebut wakil rakyat, berebut jabatan presiden, dan berebut untuk “menguasai” apapun. Semuanya berawal dari keserakahan.
Memang, boleh jadi, keserakahan itu masuk kotak “kebaikan”. Misalnya serakah ingin memimpin dan memajukan masyarakat, dan bukan serakah ingin memperkaya diri. Serakah menebar kebaikan kepada orang lain, dan bukan serakah menebarkan keburukan kepada orang lain. Tapi, jangan lupa, terkadang kita sulit membedakan “keserakahan kebaikan” dengan “keserakahan kebatilan”.
Tahun 2009 sudah berjalan. Semuanya tampak meriah. Semoga kemeriahan itu bukan sekedar mengulang rutinitas. Dan kita bisa mengatur “keserakan” kita untuk memberi manfaat kepada orang lain. Khoirun naas anfauhum lin-naas. Selamat Tahun Baru..........
nanang_fahrudin@yahoo.com
Rutinitas merayakan tahun baru telah usai. Tahun 2008 telah menjadi masa lalu. Banyak lembaran ditutup seiring pergantian tahun. Harapan, rencana, dan doa, diucapkan dengan tujuan memperoleh kehidupan yang lebih baik tahun 2009. Meski, harapan, rencana maupun doa, seringkali tergelincir pada rutinitas. Ya, hanya sekedar rutinitas.
Memang, terkadang kita selalu menginginkan kebaikan tok, tanpa disertai: keburukan. Itu berlaku bagi diri kita, keluarga, teman, dan kawan jauh. Tapi tidak untuk orang yang kita anggap “musuh”. Musuh politik, musuh sosial, musuh birokrasi, musuh budaya, dan bahkan musuh agama. Kita menjadi manusia serakah, yang hanya menginginkan kebaikan bagi diri kita dan orang-orang yang kita cintai. Tapi apa salahnya “serakah kebaikan?”
Saat menyampaikan pesan dalam perayaan Natal 25 Desember 2008 di lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan, Paus Benediktus XVI menyampaikan pesan: keserakah manusia akan menjatuhkan dunia. Headline Jawa Pos edisi 1 Januari 2009 membuat judul : Ingatkan Kita Satu Bumi. Muhammad Amin Suma, Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta memaknai tahun baru hijriyah dengan (salah satunya) melawan kezaliman dan keserakahan (Surya,11/1/2008).
Pertanyaan selanjutnya, kemana manusia melangkah dengan menggemgam erat keserakahan itu. Ibarat ingin sembuh dari sakit, kita meminum racun. Ibarat ingin kiblat ke Makkah, tapi hati kita selalu mengingat Amerika Serikat. Menginginkan perdamaian, tapi terus meletuskan peperangan. Menggembor-gemborkan penghijauan untuk atasi global warming, tapi penggundulan hutan terus terjadi.
Tahun 2008 sudah berlalu. Tapi, apa sebenarnya yang kita rayakan menyambut tahun 2009. Tak lain hanyalah menyambut keserakahan itu. Keserakahan yang telah membabi-buta. Keserakahan yang seringkali tak kita sadari menempel di setiap kemauan kita akan sebuah kebaikan. Maaf, mungkin ini agak sulit dimengerti, dan Anda boleh tidak setuju.
Cobalah Anda sebentar saja merenungkan apa sebenarnya penyebab dari semua yang dianggap masalah oleh banyak kalangan di Indonesia ini. Korupsi, perilaku hipokrit, preman, berebut wakil rakyat, berebut jabatan presiden, dan berebut untuk “menguasai” apapun. Semuanya berawal dari keserakahan.
Memang, boleh jadi, keserakahan itu masuk kotak “kebaikan”. Misalnya serakah ingin memimpin dan memajukan masyarakat, dan bukan serakah ingin memperkaya diri. Serakah menebar kebaikan kepada orang lain, dan bukan serakah menebarkan keburukan kepada orang lain. Tapi, jangan lupa, terkadang kita sulit membedakan “keserakahan kebaikan” dengan “keserakahan kebatilan”.
Tahun 2009 sudah berjalan. Semuanya tampak meriah. Semoga kemeriahan itu bukan sekedar mengulang rutinitas. Dan kita bisa mengatur “keserakan” kita untuk memberi manfaat kepada orang lain. Khoirun naas anfauhum lin-naas. Selamat Tahun Baru..........
nanang_fahrudin@yahoo.com
Posting Komentar 0 komentar: