Tirto Adhi Soerjo Cucu Bupati Bojonegoro, Penggugah Kebangsaan


Oleh: Nanang Fahrudin

Sejarah pergerakan di Indonesia pra kemerdekaan, boleh dibilang jarang diingat, apalagi sampai semangatnya menjadi teladan anak bangsa masa kini. Studi tentang-nya pun jarang diulas oleh cendekiawan atau pemikir, untuk dipublikasikan di media massa. Popularitasnya dikalahkan dengan grup band, pemain film, atau politisi yang banyak menghiasi layar kaca.

Padahal, masa pra kemerdekaan terutama awal tahun 1900-an, merupakan titik awal manusia di nusantara ini berproses menjadi “manusia”. Menjadi seseorang yang berjuang meraih kemerdekaan dalam hal seluas-luasnya. Bukan hanya memerdekakan bangsa dari penjajah “tak manusiawi” Belanda. Melainkan juga memerdekakan masyarakat dari penjajahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.

Dari sekian banyak nama yang berderet di baris tokoh pergerakan nasional, Tirto Adhi Soerjo atau biasa disingkat TAS, mungkin satu diantara nama yang jarang ditulis. Ia baru mulai dibicarakan di ranah publik sejak dinobatkan menjadi pahlawan nasional tahun 2006 oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keppres RI nomor 85/TK/2006. Meski sebelumnya pemerintah juga sudah menobatkannya sebagai Bapak Pers Nasional tahun 1973.

Hal terpenting lagi, dan lama dilupakan orang, bahwa TAS adalah seorang cucu Bupati Bojonegoro, RM Tirto Noto. Ia dilahirkan di Blora tahun 1880. Sangat sedikit literatur yang mengulas masa kecil TAS. Ia hanya dikenal saat sekolah di STOVIA di Batavia. Tapi, ia tak sampai lulus sekolah kedokteran Jawa tersebut. Lalu ia pindah ke Bandung dan menikah di sana. Di Bandung, TAS mendirikan surat kabar Soenda Berita (1903-1905).

Buku yang mengulas tentang TAS ini-pun sangat jarang. Beberapa judul yang bisa disebut di antaranya Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Tour. Buku tetralogi karya Pram juga mengulas tentang TAS meski dengan gaya roman sejarah yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Empat jilid buku karya Pramoedya itulah yang banyak dijadikan referensi. Di sana, TAS mempunyai nama Minke.

Selain itu, juga ada buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishai yang sedikit banyak mengulas TAS. Tapi buku ini, sebenarnya lebih banyak menelisik tentang sejarah pergerakan secara umum, dan hanya menyebut TAS dalam beberapa bagian saja. Tapi bukan berarti, TAS sulit dikenal, karena seabrek tulisan tentangnya bisa diunduh di internet, melalui blogspot, atau website yang mudah ditemukan.

Meski demikian, saya yakin, sangat sedikit kalangan, baik birokrat, mahasiswa, LSM, akademisi, serta kalangan lain, di Kabupaten Bojonegoro yang mengenal sosok Tirto Adhi Soerjo. Seakan-akan, TAS tak ada hubungannya dengan Bojonegoro. Padahal, kakeknya ada di sini, dan tercatat tembok Pendopo Malawapati Bojonegoro sebagai Bupati Bojonegoro


Pena dan Kebebasan

Dalam tetralogi karya Pramoedya, TAS (yang disebut dengan nama Minke) digambarkan sebagai sosok yang penuh dengan semangat kemenangan, meski menuai kekalahan. Sebuah kesadaran yang dilandasi rasionalitas ala modernitas barat digenggamnya kuat-kuat. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Manusia semua sama derajatnya, hanya kekuasaan yang membuatnya menjadi berbeda.

Sebuah perjalanan hidup seorang pejuang kemanusiaan terdengar samar dari setiap langkahnya. Minke, yang merupakan perwujudan dari TAS (versi Pramoedya), mencoba meneguhkan TAS sebagai sosok yang paling berjasa dalam dunia pergerakan waktu itu.

Minke, sejak awal dipengaruhi cara berpikir ibu mertuanya Sanikem atau Nyai Ontosoroh. Betapa gigihnya dia mempertahankan haknya, meski ia hanya berstatus “nikah siri”. Bukan posisi Sanikem yang menarik, melainkan lebih pada upayanya mempertahankan haknya. Ketika yang dilawan adalah Robert Mellema, anak dari suaminya yang dari Belanda, Sanikem memilih jalur hukum yang sepadan dengan hukum Belanda waktu itu. Dan yang membuat Minke terus melawan adalah “Dengan melawan, kita tak sepenuhnya kalah” yang diucapkan Sanikem.

Dalam perjalanannya, TAS akhirnya mendirikan koran Medan Prijaji tahun 1907 yang berbahasa Melayu. Koran itulah yang kemudian menjadi cikal bakal sebuah penerbitan media yang semua awak redaksi dan pengelolanya dipegang oleh orang pribumi. Ini menjadi luar biasa, karena waktu itu, hampir semua media sebagian besar berbahasa Belanda atau setidaknya dikelola oleh orang Indo Belanda yang ada di Indonesia. Hanya Medan Prijaji yang benar-benar “berdiri sendiri”.

Tak mengherankan jika dalam perjalanannya, Medan Prijaji menjadi ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda. Ketakutan pemerintah, adalah “pendidikan kewarganegaraan” yang terus didengung-dengungkan oleh Medan Prijaji. Karena, sejak Medan Prijaji muncul, banyak warga mulai berani menuntut haknya setelah membaca tulisan-tulisan di media yang dikelola TAS. Itu berarti, warga sudah mengetahui bahwa dirinya juga mempunyai hak yang harus dimilikinya. Setidaknya harus diperjuangkan.

Diakui memang, keberhasilan TAS sedikit banyak ada campur tangan dari Gubernur Jenderal Van Hautsz yang berkuasa waktu itu, yang memberinya perlindungan. Ia juga ditempatkan lebih tinggi dibandingkan dengan anak bangsa sezamannya yang terdidik. Tapi, perlindungan itu seakan lepas begitu saja, saat Van Hautsz digantikan oleh Gubernur Jenderal baru yakni A.WF. Idenburg tahun 1909.

Iapun tersandung masalah hukum, yakni terkena delik pers atau persdelict saat TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A Simon tahun 1909. TAS dituduh menghina pejabat Belanda, dan terkena Drukpersregliment 1856 (ditambah UU Pers tahun 1906). Hingga akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman dengan cara dibuang di Teluk Betung, Lampung selama dua bulan. Meski TAS mempunyai hak istimewa di depan hukum (forum privilegiatum) lantaran ia keturunan Bupati Bojonegoro, ia kembali tersandung kasus delik pers.

Lantaran pemberitaannya yang dinilai sering menyudutkan Pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1912, ia dituduh menghina Residen Rasenswaai dan Residen Boissevain karena menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun harus kembali menjalani kehidupannya di tempat pembuangan di Pulau Bacan dekat Halmahera, Maluku Utara.

Perjuangan TAS, memang tak bisa lepas dari tulisan dan pers. Dua hal ini seakan menjadi satu dengan sosok TAS. Dalam perjalanannya, ia juga telah menerbitkan Soenda Berita (1903-1905) sebelum kemudian menerbitkan Medan Prijaji.

Tahun 1900-an, posisi pers memang menjadi bagian penting dalam upaya sebuah pergerakan nasional. Beberapa tokoh pergerakan yang masuk jajaran pengurus Sarikat Islam (SI), berasal dari tokoh pers. Sederet nama, selain TAS bisa disebut diantaranya R.M.O.S Cokroaminoto (Redaktur Pelaksana Oetoesan Hindia), Mohammad Joesoef (Redaktur Pelaksana Sinar Djawa), dan R Goenawan (Redaktur Pelaksana Pantjaran Warta).

Bahkan, banyak tulisan mengubungkan pergerakan nasional dengan para tokoh pers. Antara Pers dan pergerakan nasional seakan menjadi dua sisi tak terpisahkan. Beberana nama bisa disebut juga aktif di lembaga pers. Di antaranya, Ki Hadjar Dewantara menjadi Pemimpin Redaksi Persatoean Hindia, Soekarno menjadi Pemimpin Redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Sedang Mohammad Hatta dibantu Sjahrir menahkodai Daulat Ra’jat.

Kembali kepada sosok TAS, jika kita tinjau dari strategi perubahan yang dilakukan TAS. Kita akan selalu menemukan sebuah desain perlawanan dengan menggunakan “pena” dan media sebagai senjatanya. Melalui media itulah TAS menyebarkan faham nasionalisme.Upaya pemerintah Hindia Belanda menghentikan TAS, hanyalah dengan menjauhkannya dari dunia jurnalistik.

Hingga akhirnya, TAS benar-benar terpisah dari anak sulungnya, dunia jurnalistik yang sejak awal dilahirkannya. Dan sungguh ironi, sekembalinya dari pembuangannya, TAS kembali lagi Batavia, mencari teman, kantor, hotel yang ia bangun. Tapi, semuanya sudah tidak ada. Perjalanan tragis dan sangat mengharukan ini digambarkan rinci oleh Pramoedya dalam seri terakhir tetraloginya berjudul Rumah Kaca.

Seorang tokoh besar, tidak mempunyai sama sekali kawan untuk diajak bicara. Ia benar-benar menjadi sendirian. Hanya R Goenawan (bekas muridnya) yang menemaninya dan menampung TAS untuk sekedar tidur dan makan. Hingga, pada suatu hari, seorang dokter Jerman, Berhard Meyersohn dipaksa tidak menerima pasien pribumi yang akan berobat. Waktu itu, jam 21.00 WIB, dokar yang membawa TAS sampai di rumah sang dokter, TAS langsung ditolak dan diminta kembali. Dan ia pun dibawa pulang oleh Gunawan dan meninggal di rumahnya dalam perawatan seadanya. Saat dimakamkan, tak ada tokoh yang dibesarkannya ikut mengantar, kecuali Gunawan.


TAS dan Kita

Membaca sepak terjang Tirto Adhi Soerjo (TAS) memang tak bisa lepas dari organisasi Sarikat Islam (SI). Organisasi yang awalnya bernama Sarikat Dagang Islamiyah (SDI) ini menjalani pasang surut pergolakan politik dengan pemerintah Hindia Belanda. Ini berkait erat dengan posisi TAS yang merumuskan anggaran dasar organisasi dan ditandatangani oleh TAS sendiri pada 9 Nopember 1911.

Dalam buku Seabad Kontroversi Sejarah (2007) karya Asvi Warman Adam, keberadaan SI, melalui skenario Orde Baru dinomorduakan oleh Budi Utomo (BO) yang lahir 20 Mei 1908. Tahun itu, kini dikenal sebagai tonggak kebangkitan nasional. Padahal, pengaruh SI lebih besar dibandingkan dengan BO. Dari jumlah anggota, BO hanya mempunyai 10 ribu anggota, sedang SI mempunyai anggota lebih dari 360 ribu.(hal:24)

Pembacaan Asvi atas sejarah bangsa, SI dan BO harus sama-sama disebut dalam sejarah pergerakan nasional. Ada hal politis, yang mendasari dimunculkannya BO, yakni cara pandang pemerintah Hindia Belanda, bahwa BO merupakan keberhasilan politik etis yang ingin memajukan pendidikan. BO tidak pernah masuk wilayah garis politik. Berbeda dengan SI, yang menyatakan diri sebagai gerakan politik. Dan itu mengancam pengaruh pemerintah. Cara pandang itulah yang dilanjutkan oleh masa Orde Baru.

Bahkan, seorang wartawan di Jakarta Basilius Triharyanto, dalam blognya menolak TAS sebagai bapak Pers Nasional. Ia mempertanyakan ukuran pers bumi putera saat itu. Menurut dia, pers sebelum Medan Prijaji sudah banyak yang menggelorakan kebangkitan rasa kebangsaan Hindia, baik pers yang dinahkodai oleh orang-orang Thionghoa maupun Indo. Memunculkan TAS baginya hanya menyuburkan mitos-mitos seorang pahlawan.

Tapi, terlepas dari kontroversi sejarah yang demikian, sosok TAS tetap mempunyai bobot tersendiri dalam sebuah perjalanan bangsa Indonesia menuju kehidupan lebih baik. TAS tetaplah TAS yang menyimpan banyak ruh perjuangan. Meski tulisan tentangnya banyak berisi lembaran kosong, lantaran minimnya literatur.

Lalu, apa untungnya mengulas TAS bagi masa yang sudah seabad lebih meninggalkannya. Masa yang diisi dengan generasi MTV, generasi gue banget. Masa yang diisi oleh para calon legislatif (caleg) yang posternya banyak bertebaran di jalanan. Masa yang penuh dengan korupsi, perilaku hipokrit, yang pada masanya, ingin ditendang jauh-jauh.

Zaman boleh berubah,. TAS tak kan pernah tahu jika “nasionalisme” yang digelorakannya telah menemukan bentuknya yang sebenar-benarnya. Sebuah negara bernama Indonesia. Sebuah kemerdekaan pribumi yang dulu selalu disebutnya di Medan Prijaji sebagai “yang terperintah”.

Sebuah usaha menghapus mental “yang terperintah” dan mengusir “yang memerintah” yakni Belanda. TAS merupakan sosok penggerak perubahan pada zamannya. Zaman yang disesaki oleh perilaku hipokrit para pejabat lokal. Zaman hubungan pejabat-rakyat sebagai kawulo-gusti. Masa dimana rakyat biasa, tak memiliki hak di depan hukum, termasuk atas tanah yang ditempatinya.

Seabad berlalu, hidup sebagai penggerak perubahan bukan pilihan tepat. Setidaknya, bagi sebagian besar kalangan saat ini. Mereka yang tetap memilih jalan “penggerak perubahan” bisa dihitung dengan jari. Itupun jika benar-benar ada. Yang lebih besar adalah penggerak massa untuk kepentingan ekonomi. Ujungnya tak lain sebuah kehidupan konsumtif. Sebuah cara pandang yang sangat pragmatis, tapi digemari.

Saat ini, (kebanyakan) mahasiswa lebih senang menjadi mahasiswa yang tidak neko-neko, agar segera selesai. Selepas kuliah, bisa kerja, dan berkeluarga. Seorang politisi lebih senang berebut menjadi wakil rakyat, daripada benar-benar menjadi penggerak perubahan. Seorang birokrat lebih sreg jika mengikuti sistem birokrasi yang bobrok. Dan seterusnya dan seterusnya.

Wakil rakyat atau birokrat yang seharusnya menjadi “sarana”, tiba-tiba menjadi tujuan akhir bagi semua pihak. Padahal kedua-duanya adalah “jabatan” publik yang diembankan kepada mereka sebagai upaya memberikan kemakmuran sebesar-besarnya kepada masyarakat. Bukan jabatan pribadi, yang dengan jabatan itu bisa melakukan apa saja.

Berkaca pada TAS, posisinya sebagai pemred Medan Prijaji, atau orang yang dekat dengan Gubernur Jenderal Van Hautzs, bukanlah sebuah tujuan akhir. Melainkan “sarana” untuk memerdekakan masyarakat pribumi dan memanusiakan mereka. Jadi, gol yang ingin dicapai sebenarnya sebuah mental “merdeka”, yang mengiringi kemerdekaan yang ingin dicapainya. Bukan hanya kemerdekaan tanpa mental merdeka.

nanang_fahrudin@yahoo.com

 
 
 
 

Posting Komentar 1 komentar:

zoomdigital mengatakan...

banyak yg kurang sesuai dengan novel aslinya karya pramoedya anantatoer misal nama robert melemma anak dari heman melemma yg di belanda yg seharusnya Ir. Mauritz Mellema.... sementara robert mellema adalah kakak ipar dari minke sendiri kakak dari annelis mellema.... demikian terima kasih...

30 April, 2010 15:20

Posting Komentar