Sahabat

Oleh: Nanang Fahrudin


Sebuah kafe dekat stasiun masih begitu nyata. Kafe dengan desain khas Jawa, lengkap dengan hiasan lesung dan gebyok ukir warna cokelat matang. Meja kursi terbuat dari Jati utuh. Disekat-sekat menjadi kamar-kamar ukuran kecil berdinding bambu setinggi pinggul, yang juga cokelat matang. Kamu duduk terdiam sendirian di sudut sana. Membuat kafe ini berhenti bernyanyi. Menyerah pada keheningan yang kau bawa di kepalamu.

Matahari memang baru saja tersingkir di ufuk barat. Sisa cahayanya yang merah memantul dari genting kafe dan mengenai diriku yang masih berada di parkiran kafe dan begegas menujumu. Motor vespa kuletakkan begitu saja, karena takut akan membuat keterlambatanku merubah suasana pertemuan menjadi kelabu. Meski sebelum bertemupun aku sudah kelabu.

Saat melihatku datang, wajahmu terlihat datar. Tidak ada riak-riak gelombang air atau lubang jalan yang bisa kutemukan di raut mukamu. Jangankan senyum, bersalamanpun kamu tidak. Hanya bola mata hitammu saja mengikutiku yang tengah mencari tempat duduk untuk bokong tipis ini.

Aku sendiri hanya bisa menduga-duga, apa sebenarnya yang ada di pikiranmu detik itu. Belasan tahun bersahabat, tidak pernah sikapmu semasam ini. Sepahit ini dan sekecut saat ini. Tapi tetap saja semua harus kutelan. Apakah sudah tidak ada artinya lagi sebuah persahabatan?. Apa sebenarnya kau sudah memutusnya?. Aku tidak tahu persis jawabannya.

“Oo..kamu sudah datang rupanya?”

Aku ingin sekali mengatakan langsung waktu itu juga bahwa kata-katamu menghakimi diriku. Seakan-akan aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar dan harus diganjar dengan hukuman setimpal. Seberat ini.

“Maaf aku terlambat,” jawabku mencoba memadamkan api.

Kamu diam. Akupun memilih membisu.

Seorang pelayan membawa buku menu makanan entah siapa yang meminta tiba-tiba sudah berada di antara kami berdua. Angin di sekitarku yang berhenti pun mulai berhembus kembali. Membunuh keheningan yang tercipta entah oleh siapa.

Memang, dunia antara kami berdua sudah jauh berbeda dibandingkan belasan tahun lalu. Waktu itu kami berdua sama-sama menyanyikan lagu perjuangan dengan kepalan tangan kiri. Berjalan menyusuri aspal di antara megahnya pertokoan yang dulunya bentangan sawah. Menenteng spanduk bertuliskan ‘ganyang orde baru’.

Yach…memang itu dulu. Tidak berlaku untuk saat sekarang. Dan mungkin hanya layak menjadi sebuah kenangan usang. Kenangan yang tak perlu lagi dikenang.

Kamu sekarang telah menjadi seorang jurnalis. Banyak orang mengatakan profesimu selalu menjadikan kata-kata sebagai pedang. Menjadikan mata dan telinga sebagai tangan yang memunguti peluru untuk disimpan, yang suatu saat siap diledakkan. Otakmu terus berputar untuk bisa menemukan kebaruan dari kepingan kehidupan yang berserakan. Dipungut, dirangkai menjadi rakitan bom nan indah, lalu diledakkan di tengah masyarakat. Ledakannya seringkali membuat orang kaget bukan kepalang. Dan tak jarang, melukai tubuh siapapun.

Dan ledakan itulah itu sebenarnya yang menciptakan keheningan saat ini. Di kafe ini. Ledakan dari karya terbaikmu selama ini yang terbaca oleh mata-mataku. Ledakan yang tidak sepatutnya meledak. Karena ledakan itu bukan saja melukai tubuhku, tapi juga jiwa serta keluargaku. Sampai-sampai aku harus meneguhkan diriku sendiri dengan kata-kataku yang tak tiupkan ke telingaku sendiri “aku belum kalah”.

Aku sendiri memang yang menjadikannya sebuah peperangan. Beberapa kali aku mencoba menelponmu agar antara kita berdua bisa menciptakan perdamian. Bukan peperangan yang tidak mengenakkan seperti sekarang. Aku sering menanyakan nomor rekeningmu sebagai tanda kibaran bendera putih dariku. Tapi ternyata upaya perdamaian itu malah membuatku memerangi diriku. Hingga akhirnya kamu tetap saja meledakkan bom itu.

“Jangan semua kamu nilai dengan angka,” katamu saat itu dan kamu ulang pada saat-saat lainnya juga.

“Tapi bukankah kita bersahabat. Apa tidak cukup kebersamaan kita dulu,” kataku memelas.

“Cukup. Cukup bisa menahanku untuk tidak meledakkan yang lainnya juga,” katamu dingin.

“Tapi tulisanmu itu sudah membuatku mati,” kataku lagi.

“Aku tidak pernah bermaksud membunuh siapapun. Aku hanya menghidupkan kemanusiaan,” katamu masih persis seperti mahasiswa dulu.

Debat itu selalu tidak bisa menghentikan peperangan. Dan ledakan demi ledakan terus membunuhiku. Semua berasal dari tulisanmu. Sampai-sampai jabatanku sudah di ujung tanduk dan hampir memupus kesabaranku untuk memilih perang dengaan cara lain.

***


Kafe masih hening. Kamu dan aku belum juga mengeluarkan kata-kata. Secangkir kopi jahe yang kupesan dan es jus tomat yang kamu pesan sama-sama sudah habis. Sementara beberapa sudut kafe ditempati muda-mudi yang duduk berdekatan dan entah apa yang dilakukan di bawah lampu kafe yang temaram.

“Oke apa maumu sekarang,” katamu memulai percakapan berat ini.

“Kamu tidak pesan minum lagi,” kataku mencoba memecah kebekuan.

“Persahabatan memang anugerah Tuhan bagi hamba-Nya. Dan aku tidak pernah memungkirinya. Dan semoga juga kamu. Tapi perlu aku dan kamu ketahui, persahabatan bukanlah sebuah persekutuan yang membolehkan untuk membiarkan pembunuhan atas kemanusiaan. Dan kamu lebih paham soal itu”

Kata-katamu memang tidak sepanjang daftar pertanyaan yang ada di kepalaku. Tapi entah kenapa membuatku ciut untuk mengatakan sesuatu. Aku menjadi bisu seketika. Tanpa kata. Tanpa suara.

Jabatanku di birokrasi pemerintah memang tidak merubah cara pandangku. Namun sangat merubah perilakuku. Kusadari itu semuanya. Berkata proletar, bergaya borjuis. Berkata pro rakyat, tapi enggan memberi uang kepada pengemis. Tapi bukankah itu konsekuensi dari pekerjaanku?. Bukan karena kemauanku, melainkan dari sistem?.

Entahlah. Yang jelas, sekarang aku telah terkena serpihan bom yang kamu ledakkan. Digiring petugas ke sebuah sel pengap. Jauh dari dunia manusia merdeka yang bisa berjalan-jalan ke mal malam hari atau main tennis pagi hari. Dan yang lebih kejam aku dilabeli sang koruptor. Akupun lantas bertanya “di mana makna persahabatan itu?”

Aku sulit menjawabnya. Entah kalau kamu.


Bojonegoro, Juli 2007

nanang_fahrudin@yahoo.com

 
 
 
 

Posting Komentar 0 komentar:

Posting Komentar