Oleh: Nanang Fahrudin
Era informasi yang terjadi sekarang ini, mau tidak mau telah menyeret semua bidang untuk masuk pada satu pusaran, yaitu industrialisasi dan kapitalisasi. Tak terkecuali sebuah produk seni seperti drama, teater, film, sinetron dan musik. Hampir semuanya berada di bawah ideologi kapital. Seni bukan lagi menjadi sebuah karya luhur manusia untuk mengekspresikan kebebasan manusiawi-nya. Melainkan hanya menjadi mesin pengeruk keuntungan kapital semata.
Jebakan industrialisasi dan kapitalisasi, diakui atau tidak telah merasuk (terlalu) dalam pada dunia remaja dan pendidikan kita. Dunia remaja yang identik dengan masa pencarian identitas diri, diseret untuk menjadi sesuatu yang telah dikonstruk (dibentuk) oleh industri budaya yang gencar dilakukan oleh media massa, khususnya televisi melalui berbagai bentuk film dan sinetron.
Tanpa harus melakukan penelitian yang menghabiskan waktu lama, kita bisa mengamati secara langsung wajah sinetron remaja saat ini. Hampir semuanya memilih background pendidikan di sekolah. Sayangnya, image sekolah, tempat transformasi ilmu pengetahuan, telah merosot hanya menjadi tempat beradu trik kejam dan sadis, saling menjatuhkan satu sama lainnya, melalui tokoh-tokoh yang diperankan dalam sinetron remaja tersebut.
Ironisnya, seakan sudah mempunyai ideologi seragam, hampir semua televisi menampilkan sinetron remaja yang dibalut dengan dunia pendidikan yang tidak mencerminkan realitas dan terkesan menyimpang. Ideologi pasar menjadi senjata para pemilik rumah produksi sinetron untuk terus memproduksi sinetron-sinetron serupa dan dilemparkan ke masyarakat luas, khususunya untuk pasar para remaja.
Hampir tidak pernah ada, sinetron remaja yang menampilkan tokoh pecinta ilmu pengetahuan, olahraga, yang berlomba untuk memperoleh sebuah prestasi. Tapi yang hadir malah tokoh rekaan dalam sinetron yang bergaya semau gue, gue banget, urakan, dan dengan gaya sombongnya, memarahi guru, kebut-kebutan, hingga tokoh yang hanya berebut pacar.
Fenomena ini sebenarnya patut disayangkan, karena sudah masuk tahap “kritis”. Mengapa?. Karena semua pihak, pemerintah, media, dan masyarakat nyaris tidak pernah ada yang mengoreksi “penyimpangan” yang lambat tapi pasti bisa meng-konstruk kehidupan remaja. Image pendidikan yang ditampilkan dalam sinetron remaja itu, lama kelamaan akan menjadi sebuah dunia yang benar-benar riil, yang dilakukan oleh para remaja bangsa ini.
John B. Thomson (2006) dengan tegas menyatakan produk seni (termasuk sinetron), telah kehilangan ruh pembebasannya. Karena seni yang menjadi produk industri budaya telah menghilangkan daya kontemplasi menjadi hanya pertukaran komoditas, yang dinilai terutama berdasarkan kemampuannya untuk dipertukarkan, bukan oleh nilai astetik yang dikandungnya.
Akibatnya, seni itu terus menimbulkan efek bola salju yang terus membesar dan menjadi sebuah identitas tersendiri. Image identitas itu berada di luar subyektifitas masyarakat itu sendiri, tapi selalu dianggap “benar-benar realitas”. Dampak sosialnya, perilaku remaja (siswa) seperti tergambar dalam dunia sinetron kita, dianggap sebuah dunia yang riil, yang mana itu dimaknai bukan sebagai penyimpangan (anomali) sosial. Sehingga, ketika siswa corat-coret saat lulus, seks bebas, kebut-kebutan di jalan, merokok, narkoba, dianggap sesuatu yang wajar di dunia remaja, dan patut diikuti.
Fenomena itu, diperparah lagi dengan dikaitkannya dunia pendidikan dengan sinetron. Karena seperti penulis katakan di muka, sinetron kita banyak yang mengambil latar cerita gedung sekolah lengkap dengan guru dan muridnya. Ruh pendidikan sendiri ternyata tidak pernah nampak dalam pendidikan yang ditampilkan oleh sinetron, kecuali hanya kulit luarnya saja.
Ini sebenarnya menjadi pekerjaan rumah bagi semua kalangan, terutama para pendidik dan pihak yang peduli terhadap kualitas pendidikan bangsa ini. Disadari atau tidak, sinetron remaja telah menggiring generasi muda bangsa Indonesia pada karakter yang pincang. Yaitu karekter remaja yang hanya mau menang sendiri, sulit memahami realitas sebenarnya, dan jauh dari “budaya cerdas”.
Sudah saatnya, generasi remaja disuguhkan sebuah dunia yang tidak hanya pandai mencaci, menghina, meludah, seperti yang ditampilkan dalam sinetron remaja saat ini, melainkan disuguhi dunia yang memacu pada budaya belajar yang mengarah pada budaya cerdas. Karena budaya cerdas, selama ini disembunyikan di balik sinetron remaja yang hanya terjebak pada pertukaran komoditas saja.
Jika Presiden SBY, pernah mendengung-dengungkan perlunya manusia unggul di Indonesia, maka akan sangat sulit mewujudkan, kalau konstruksi sosial yang dibangun bangsa ini mengarah pada konstruksi karakter remaja yang jauh dari budaya cerdas. Dan bisa jadi, bangsa ini hanya akan terus menjadi bangsa yang diisi oleh orang-orang yang punya karakter tidak mengakui kekalahan, ingin selalu menang, egois dan pemarah.
Padahal, dengan kondisi bangsa yang sakit saat ini, Indonesia memerlukan sebuah generasi yang mau belajar, generasi yang terus berusaha maju, dan menguasai ilmu pengetahuan. Bukan generasi remaja yang punya karakter seperti yang tercitra dalam setiap sinetron remaja saat ini. Sinetron remaja yang “tidak manusiawi” itu, disadari atau tidak telah menjadi “sekolah” sendiri, dimana banyak generasi remaja yang belajar dari sana. Karena tidak bisa dinafikan, fungsi sebuah media massa yang salah satunya adalah edukasi. Jika “ilmu” yang diberikan cenderung negatif, bisa dipastikan masyarakat juga akan menangkapnya demikian.
Pada akhirnya, pembentukan karakter generasi remaja kita sangat bersangkut erat dengan cara berpikir (way of thinking) generasi itu sendiri. Dan mungkin, semua masyarakat perlu kembali bertanya pada diri, akan dibawa kemana generasi remaja kita, yang sepuluh tahun lagi akan memimpin bangsa ini.
Wallahu A’lam…
nanang_fahrudin@yahoo.com
Jebakan industrialisasi dan kapitalisasi, diakui atau tidak telah merasuk (terlalu) dalam pada dunia remaja dan pendidikan kita. Dunia remaja yang identik dengan masa pencarian identitas diri, diseret untuk menjadi sesuatu yang telah dikonstruk (dibentuk) oleh industri budaya yang gencar dilakukan oleh media massa, khususnya televisi melalui berbagai bentuk film dan sinetron.
Tanpa harus melakukan penelitian yang menghabiskan waktu lama, kita bisa mengamati secara langsung wajah sinetron remaja saat ini. Hampir semuanya memilih background pendidikan di sekolah. Sayangnya, image sekolah, tempat transformasi ilmu pengetahuan, telah merosot hanya menjadi tempat beradu trik kejam dan sadis, saling menjatuhkan satu sama lainnya, melalui tokoh-tokoh yang diperankan dalam sinetron remaja tersebut.
Ironisnya, seakan sudah mempunyai ideologi seragam, hampir semua televisi menampilkan sinetron remaja yang dibalut dengan dunia pendidikan yang tidak mencerminkan realitas dan terkesan menyimpang. Ideologi pasar menjadi senjata para pemilik rumah produksi sinetron untuk terus memproduksi sinetron-sinetron serupa dan dilemparkan ke masyarakat luas, khususunya untuk pasar para remaja.
Hampir tidak pernah ada, sinetron remaja yang menampilkan tokoh pecinta ilmu pengetahuan, olahraga, yang berlomba untuk memperoleh sebuah prestasi. Tapi yang hadir malah tokoh rekaan dalam sinetron yang bergaya semau gue, gue banget, urakan, dan dengan gaya sombongnya, memarahi guru, kebut-kebutan, hingga tokoh yang hanya berebut pacar.
Fenomena ini sebenarnya patut disayangkan, karena sudah masuk tahap “kritis”. Mengapa?. Karena semua pihak, pemerintah, media, dan masyarakat nyaris tidak pernah ada yang mengoreksi “penyimpangan” yang lambat tapi pasti bisa meng-konstruk kehidupan remaja. Image pendidikan yang ditampilkan dalam sinetron remaja itu, lama kelamaan akan menjadi sebuah dunia yang benar-benar riil, yang dilakukan oleh para remaja bangsa ini.
John B. Thomson (2006) dengan tegas menyatakan produk seni (termasuk sinetron), telah kehilangan ruh pembebasannya. Karena seni yang menjadi produk industri budaya telah menghilangkan daya kontemplasi menjadi hanya pertukaran komoditas, yang dinilai terutama berdasarkan kemampuannya untuk dipertukarkan, bukan oleh nilai astetik yang dikandungnya.
Akibatnya, seni itu terus menimbulkan efek bola salju yang terus membesar dan menjadi sebuah identitas tersendiri. Image identitas itu berada di luar subyektifitas masyarakat itu sendiri, tapi selalu dianggap “benar-benar realitas”. Dampak sosialnya, perilaku remaja (siswa) seperti tergambar dalam dunia sinetron kita, dianggap sebuah dunia yang riil, yang mana itu dimaknai bukan sebagai penyimpangan (anomali) sosial. Sehingga, ketika siswa corat-coret saat lulus, seks bebas, kebut-kebutan di jalan, merokok, narkoba, dianggap sesuatu yang wajar di dunia remaja, dan patut diikuti.
Fenomena itu, diperparah lagi dengan dikaitkannya dunia pendidikan dengan sinetron. Karena seperti penulis katakan di muka, sinetron kita banyak yang mengambil latar cerita gedung sekolah lengkap dengan guru dan muridnya. Ruh pendidikan sendiri ternyata tidak pernah nampak dalam pendidikan yang ditampilkan oleh sinetron, kecuali hanya kulit luarnya saja.
Ini sebenarnya menjadi pekerjaan rumah bagi semua kalangan, terutama para pendidik dan pihak yang peduli terhadap kualitas pendidikan bangsa ini. Disadari atau tidak, sinetron remaja telah menggiring generasi muda bangsa Indonesia pada karakter yang pincang. Yaitu karekter remaja yang hanya mau menang sendiri, sulit memahami realitas sebenarnya, dan jauh dari “budaya cerdas”.
Sudah saatnya, generasi remaja disuguhkan sebuah dunia yang tidak hanya pandai mencaci, menghina, meludah, seperti yang ditampilkan dalam sinetron remaja saat ini, melainkan disuguhi dunia yang memacu pada budaya belajar yang mengarah pada budaya cerdas. Karena budaya cerdas, selama ini disembunyikan di balik sinetron remaja yang hanya terjebak pada pertukaran komoditas saja.
Jika Presiden SBY, pernah mendengung-dengungkan perlunya manusia unggul di Indonesia, maka akan sangat sulit mewujudkan, kalau konstruksi sosial yang dibangun bangsa ini mengarah pada konstruksi karakter remaja yang jauh dari budaya cerdas. Dan bisa jadi, bangsa ini hanya akan terus menjadi bangsa yang diisi oleh orang-orang yang punya karakter tidak mengakui kekalahan, ingin selalu menang, egois dan pemarah.
Padahal, dengan kondisi bangsa yang sakit saat ini, Indonesia memerlukan sebuah generasi yang mau belajar, generasi yang terus berusaha maju, dan menguasai ilmu pengetahuan. Bukan generasi remaja yang punya karakter seperti yang tercitra dalam setiap sinetron remaja saat ini. Sinetron remaja yang “tidak manusiawi” itu, disadari atau tidak telah menjadi “sekolah” sendiri, dimana banyak generasi remaja yang belajar dari sana. Karena tidak bisa dinafikan, fungsi sebuah media massa yang salah satunya adalah edukasi. Jika “ilmu” yang diberikan cenderung negatif, bisa dipastikan masyarakat juga akan menangkapnya demikian.
Pada akhirnya, pembentukan karakter generasi remaja kita sangat bersangkut erat dengan cara berpikir (way of thinking) generasi itu sendiri. Dan mungkin, semua masyarakat perlu kembali bertanya pada diri, akan dibawa kemana generasi remaja kita, yang sepuluh tahun lagi akan memimpin bangsa ini.
Wallahu A’lam…
nanang_fahrudin@yahoo.com
Posting Komentar 0 komentar: