Simalukrum

Simulakrum
Oleh : Nanang Fahrudin

Iklan. Apa yang Anda pikirkan saat melihat iklan televisi. Dua orang (pria-wanita) menggenggam ponsel. Melompat-lompat dari satu ponsel ke ponsel lainnya. Begitu asyik. Atau (satu lagi contoh), saat Anda menonton iklan operator seluler. Semua akan bilang yang paling murah, hemat, internet akses cepat dan seterusnya.
Ada beberapa kemungkinan yang akan Anda pikirkan. Pertama, Anda tertarik dengan ponsel keluaran terbaru. Setelah itu, Anda akan mencari tahu harga ponsel yang anda “buru”. Butuhkah Anda akan ponsel keluaran terbaru itu?. Atau pentingkah ponsel bagi Anda?. Pertanyaan itu, pasti akan tersisih. Dan Anda segera mendapatkan ponsel itu. Karena, bagi Anda dan semua orang, ponsel adalah gaya hidup. Kebutuhan utama sebagai masyarakat modern.
Kemungkinan jawaban kedua, Anda akan langsung membandingkan antara satu merek ponsel dengan merek lainnya. Ujungnya sama : membeli. Entah kenapa, kemungkinan jawaban : menolak membeli, jarang dipilih. Minimal, pilihannya nanti adalah menunda membeli. Padahal, Anda sekarang juga sudah memegang ponsel.
Begitulah. Kebutuhan sehari-hari kita (tanpa disadari) telah disetir oleh sesuatu di luar diri kita. Sebuah dunia khayalan yang tercipta melalui televisi, penampilan orang lain, atau kehidupan artis. Dunia imaji (khayalan) itu terlahir dari pencitraan yang terus tampil di sekitar kita. Dunia imaji itulah yang menjadi “kiblat” kehidupan kita saat ini.
Kita akan begitu fanatik membela si “A” misalnya. Hanya gara-gara dia seringkali diiklankan di televisi membantu orang miskin. Menyantuni anak yatim. Kita akan begitu mudah membenci kelompok tertentu, karena di televisi dia dibilang sesat, kafir, atau menodai agama. Benarkah si “A” itu orang saleh, atau kelompok tertentu sesat?. Entah kenapa, kita seringkali enggan menelusurinya. Kita seakan-akan sudah mengamini, bahwa apa yang ditayangkan di televisi (atau yang tampak) adalah kebenaran. Ya, kebenaran yang patut diikuti.
Itulah dunia simulakrum. Dunia seoalah-oalah. Dunia yang tanpa kita sadari telah menggerakkan diri kita untuk selalu menuju ke sana. Tanpa sempat mempertanyakan lagi, apakah semuanya itu benar atau salah. Pantas atau tidak pantas. Di dunia simulakrum (simulasi), sulit membedakan mana yang kebenaran, atau mana yang hanya pencitraan saja. Semua menyatu menjadi satu. Realitas dan isu memiliki bobot sama.
Lihat saja, pejabat yang akan mencalonkan diri menjadi calon pemimpin tingkat nasional atau daerah. Semua membutuhkan pencitraan. Upaya pencitraan itu tak lain membangun dunia yang nantinya dikonsumsi masyarakat. Bagian dirinya yang “jelek” perlu disembunyikan sebentar. Jika dia tersangkut korupsi, mantan preman, atau apalah namanya. Maka, citra yang dibangun adalah dia taat beragama, sering menolong orang kecil dan hal-hal yang baik. Dijamin, latar belakang yang hitam akan terhapus dengan sendirinya.
Nah, kalau sudah begitu bagaimana?. Saya tak ingin menulis jawaban di sini. Karena, bagi banyak orang, dunia simulakrum malah bukan sebuah masalah yang perlu diatasi. Tapi, merupakan kesempatan untuk bisa “bermain-main”. Tapi entahlah. Semua tergantung kepada Anda. Menenggelamkan diri begitu saja di dunia simulakrum, atau tetap berusaha berpikir kritis. Karena bagaimanapun, dunia seolah-olah itu telah menjadi dunia yang sebenarnya.

(Dimuat di Buletin BACA! edisi V Desember 2009)

 
 
 
 

Posting Komentar 0 komentar:

Posting Komentar